Penyakit Kawasaki, Demam yang Bisa Rusak Jantung

 

Bahama – Penyebab kematian Jett Travolta, anak aktor John Travolta, masih menyimpan tanda tanya besar. Namun, kejadian ini melambungkan nama penyakit misterius yang disebut Kawasaki.

Selama sepekan terakhir, media massa di seluruh dunia gencar memperbincangkan penyakit terkait kematian mendadak putra aktor John Travolta, Jett Travolta, sehari setelah merayakan tahun baru di Bahama, Amerika. Hingga hasil akhir otopsi, tim medis hanya menyiratkan kematian putra sulung pasangan Travolta dan Kelly Preston itu disebabkan “serangan misterius”. Beragam spekulasi pun muncul, tapi kuat dugaan kematian remaja berusia 16 tahun itu terkait penyakit Kawasaki yang pernah diidapnya saat usia 2 tahun.

Penyakit Kawasaki umumnya memang menyerang anak-anak usia kurang dari 5 tahun, dan paling sering pada anak umur 1-2 tahun. Gejala klasiknya adalah demam tinggi hingga mencapai 41ø Celsius dan berlangsung lebih dari lima hari. Kendati serangan penyakit ini terjadi saat balita, dampaknya bisa terus berlanjut seumur hidup, terutama jika sudah telanjur terjadi kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Artinya, penyakit ini merupakan salah satu kondisi yang memungkinkan seseorang mengalami serangan jantung pada usia remaja.

Ahli jantung anak Najib Advani di Jakarta mengungkapkan, sekitar 60-80% kejadian Kawasaki bersifat ringan dan tidak sampai mengenai jantung. Dengan pengobatan tepat dan tidak terlambat, pasien mungkin masih bisa sembuh. Namun, sekitar 20-40% kasus telah terjadi kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh, tapi sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu.

“Penyakit kawasaki juga dapat merusak katup jantung yang dapat menimbulkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian. Kemungkinan kambuhnya penyakit ini sekitar 3 persen,” ujar dokter yang menjabat Ketua Kawasaki Center yang berbasis di RS Omni International Hospital Alam Sutera, Tangerang, ini.

Harus Waspada

Najib yang juga penulis buku “Mengenal Penyakit Kawasaki” ini mengungkapkan, di Indonesia diperkirakan terdapat 5.000 kasus Kawasaki baru setiap tahun. Dari prakiraan itu, hanya sekitar 100-200 kasus yang diketahui. Selain itu, masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan penyakit yang tidak menular itu menyebabkan diagnosis acap kali terlambat. Bahkan, kalangan medis pun masih ada yang belum paham. Untuk itu, orangtua hendaknya waspada jika anaknya mengalami demam tinggi dan dalam 2-3 hari tidak menunjukkan perbaikan.

“Segera periksakan ke dokter, jangan sampai terlambat! Paling tidak dalam 5-7 hari anak telah mendapatkan pengobatan dari dokter. Jika demam sudah berlangsung lebih dari 10 hari tanpa pengobatan, dikhawatirkan sudah terjadi kerusakan terhadap organ lain. Paling berbahaya kalau sudah kena ke jantung,” sebutnya.

Hal lain yang menyulitkan diagnosis penyakit ini adalah karena penampakannya yang dapat mengelabui mata. Misalnya, setelah 2-3 hari demam biasanya akan muncul bintik merah di kulit sehingga dikira penyakit campak. Pembengkakan di salah satu sisi leher juga terkadang membuat dokter terlalu dini menyimpulkannya sebagai penyakit gondong. Untuk itu, Najib sangat menekankan perlunya edukasi lebih dalam bagi dokter dan masyarakat.

Hingga kini, penyebab penyakit Kawasaki masih belum diketahui secara pasti sehingga cara pencegahannya pun belum ada. Meski diduga kuat akibat suatu infeksi, belum ada bukti yang meyakinkan. Terbukti, penderita penyakit ini tidak menunjukkan perbaikan setelah diberi obat-obatan antibiotik, bahkan dalam dosis tinggi sekalipun.

Ditambahkan Najib, pasien yang telah terdiagnosis penyakit Kawasaki mutlak harus diberikan imunoglobulin selama 10-12 jam. Sayangnya, harga obat ini cukup mahal, berkisar Rp 1 juta per gram. Padahal, pasien membutuhkan imunoglobulin 2 gram per kg berat badan. Misalnya, anak dengan bobot badan 15 kg membutuhkan 30 gram atau seharga Rp 30 juta! (sdo/tin)

Identitas Penyakit Kawasaki

* Menyerang anak usia 1-2 tahun.

* Gejalanya, demam tinggi hingga 41ø Celsius.

* Demam berlangsung lebih dari lima hari.

* Dalam 5-7 hari anak harus ditangani dokter.

* Demam lebih dari 10 hari tanpa pengobatan, terjadi kerusakan terhadap organ lain, terutama jantung.

* Dampaknya bisa terus berlanjut seumur hidup.

* Memungkinkan seorang mengalami serangan jantung pada usia remaja.

* Penyebab penyakit masih belum diketahui secara pasti sehingga cara pencegahannya pun belum ada.

sumber : http://www.baliforumotion.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s